Sabtu, 28 Januari 2017

BANGGA MENJADI GURU

INSTRUMEN LAGU TERIMA KASIH GURUKU

Kita ingat sejenak tentang perhatian Kaisar Hirohito terhadap Guru dikala bom-bom atom menghancurkan penduduk dan merusak segala infrastruktur yang telah ada. Langkah hebat diambil Kaisar dengan segera mencari jumlah guru yang tersisa, bukan mencari armada dan angkatan perang . Dan melalui guru, Kaisar memerintahkan semua masyarakat untuk dapat membaca dan menulis sehingga menumbuhkan kecintaan terhadap buku sebagai sumber belajar. Saat ini terbukti dari NOL sebuah angka yang mustahil, ditengah kondisi segala sesuatu rusak dan hancur, Jepang dapat bangkit dan menjadi negara dengan kekuatan ekonomi, industri dan militer yang patut diperhitungkan. Dan Jepang menjadi negara pecinta buku dengan tidak pernah menjauhkan  buku dari  kehidupan rakyatnya. Sehingga tidak mengherankan toko buku di Jepang selalu buka hingga malam melebihi tempat hiburan yang ada. Bahkan menurut data dari Bankanews  jumlah toko buku di Jepang jumlahnya sama dengan toko buku di Amerika serikat yang 26 kali lebih luas dan berpenduduk 2 kali lebih banyak dari Jepang.
Dari cerita di atas terlihat bahwa guru memiliki peran sangat besar dalam kemajuan  suatu bangsa. Guru disebut pahlawan pembangunan karena dari tangan-tangan para guru akan terlahir pahlawan pembangunan yang akan mengisi ruang-ruang publik di negara ini. Guru adalah profesi yang mulia karena di tangan para guru, masa depan bangsa akan ditentukan. Guru disebut pahlawan tanpa tanda jasa karena banyak para guru yang bekerja dan mengajar tanpa mengharapkan imbalan yang sesuai dengan apa yang telah dilakukannya.
Guru adalah profesi yang paling terhormat. Ketika para arsitek, ahli biologi dan dokter bergelimang kotoran dan penyakit karena lahan pekerjaan di sana, maka betapa bangganya seorang guru yang memiliki lahan pekerjaan yang merupakan karunia paling tinggi dari Sang Pencipta yaitu mengolah dan membentuk pola pikir seorang manusia. “Menjadi Guru adalah pilihan, Menjadi Guru adalah panggilan jiwa” Modal utama seorang guru bukan hanya akademiknya saja, tetapi juga nuraninya. Jadi seorang guru harus dengan lantang menyatakan bahwa “AKU BANGGA MENJADI SEORANG GURU”
Tetapi harus selalu diingat bahwa seorang guru dapat menorehkan suatu keabadian (pembentuk akal dan jiwa) pada diri siswanya tanpa tahu kapan berakhirnya. Seorang guru dapat membunuh potensi 1000 orang bahkan mungkin 10 generasi jika salah mendidik siswanya.
Namun demikian pada sisi yang lain kita pahami bahwa guru juga mempunyai kehidupan sosial, mempunyai tanggung jawab terhadap kehidupan pribadi dan keluarganya, sehingga tidak dapat dipungkiri masih banyak guru yang terlalu sibuk untuk berjuang demi kesejahteraan diri dan keluarganya dan mengabaikan tugas dan kewajiban sebagai guru sehingga masih ada beberapa guru yang kurang maksimal dalam menunaikan tugas dan kewajiban sebagi guru. Di sini tugas dan peran guru akan sangat dibutuhkan.
Untuk merasa bangga menjadi seorang guru bukanlah hal yang sulit, tetapi apakah seseorang dapat bangga menjadi guru jika tidak mempunyai kompetensi yang cukup sebagai seorang guru, tidak memiliki nurani sebagai seorang guru, tidak memiliki rasa bahwa seorang guru adalah juga seorang pelajar dan sangat perlu dalam mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi yang demikian cepatnya.
Beberapa cara yang dapat dilakukan supaya  kita bangga menjadi guru adalah :

  1. Memenuhi kompetensi sebagai guru yaitu : Kompetensi profesional, sorang guru harus benar-benar memiliki kemampuan dalam hal perencanaandan pelaksanaan proses pembelajaran. Guru mempunyai tugas mengarahkan kegiatan belajar siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Guru dituntut untuk selalu mengupdate dan mampu menguasai materi dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu. Guru adalah sumber materi yang tak pernah kering yang mampu meningkatkan keaktifan siswa dengan metode dan strategi yang tepat. 
  2. Kompetensi pedagogik, seorang guru mempunyai kemampuan yang berkenaan dengan karakteristik siswa yang berimplikasi terhadap kemampuan seorang guru dalam menguasai teori dan  prinsip-prinsip pembelajaran sehingga dapat mengoptimalkan potensi siswa dalam mengaktualisasikan kemampuannya dikelas selanjutnya guru juga harus mampu melakukan penilaian terhadap pembelajaran yang telah dilakukan.
  3. Kompetensi pribadi, dalam melaksanakan kompetensi ini seorang guru harus didukung dengan rasa bangga akan tugasnya sebagai seseorang yang akan mempersiapkan kualitas generasi masa depan bangsa. Dengan rasa rasa bangga inilah seorang guru harus mampu mengarahkan  siswa ke arah proses sesuai dengan tata nilai yang baik dan berlaku dalam masyarakat. Seorang guru harus mampu membelajarkan siswa tentang disiplin diri, belajar membaca, mencintai bukudan berlaku jujur. Seorang guru harus mampu dalam membangkitkan keberanian siswa untuk bermimpi  dan menjadi penjaja impian dengan mimpi menjadi manusia seutuhnya. Karena ketika seorang guru menjadi idola, maka mudah bagi guru untuk memupuk impian yang dimiliki siswanya dan mengarahkan pada jalan yang benar untuk menuju pencapaian impian siswanya. Kompetensi sosial, seorang guru harus mampu berkomunikasi, bekerja sama dan mempunyai jiwa yang menyenangkan  merupakan panutan yang perlu dicontoh dan  suri tauladan dalam kehidupan sehari-hari..
  4. Guru harus selalu meningkatkan kemampuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), Perkembangan ilmu dan teknologi mempunyai kecepatan dan percepatan yang luar  biasa, ini juga dirasakan dalam dunia pendidikan, berarti seluruh pengelola pendidikan termasuk guru harus bergerak cepat dalam beradaptasi. Banyak platform yang telah dimanfaatkan oleh guru dan peserta didik, misalnya mulai terbiasa menggunakan internet untuk mencari berbagai referensi tentang suatu materi, guru mulai melakukan pengajaran dengan menggunakan multimedia yang dinamis dan menarik, siswa dapat belajar kapan dan di mana saja karena siswa generasi digital dapat belajar lebih mandiri dengan memanfaatkan teknologi. Untuk itu seorang guru harus menguasai TIK  dengan cara mengikuti pelatihan yang cukup dan didukung dengan kreativitas sehingga guru dapat memfasilitasi dan memanfaatkan TIK untuk kegiatan pembelajaran di sekolah sehingga dapat mencetak lulusan yang dapat berkompetisi secara global serta mampu menggunakan seluruh bentuk alat komunikasi didunia maya seperti website, email dan lain-lain. 
  5. Meningkatkan rasa kasih sayng terhadap siswa, seorang guru harus memiliki 3M, menawan suaranya, mengundang perkataannya dan melayani dengan kasih sayang. Penting bagi guru mempunyai suara yang bisa didengar siswanya, terutama dalam pembelajaran dalam kelas, tetapi lebih penting jika suara mempunyai daya tarik bagi siswa karena mengandung kata-kata yang penuh kebijakan, tuntunan dan siswa selalu disadarkan akan penting belajar dan bekerja keras untuk mengejar impian-impiannya sehingga mengundang siswa untuk mendengarkan. Dan yang terakhir didiklah siswa dengan kasih sayang, karena ini adalah kesempurnaan hidup seorang guru.
Ironisnya dari kondisi yang kita hadapi sekarang adalah persoalan pendidikan  sampai saat ini masih belum dapat  teratasi walaupun menurut APBN, anggaran untuk pendidikan sudah cukup besar. Karena beberapa bukti menunjukan dari segi kualifikasi pendidikan dari 2,92 juta guru yang berpendidikan S1 baru 15% dan 49% belum berpendidikan S1 (Kompas, 7 Maret 2012). Kualitas pendidik juga belum menggembirakan diakui oleh Mendikbud dan dibuktikan oleh rendahnya hasil uji kompetensi terhadap 281.016 guru TK hingga SMA/K dengan nilai rata-rata 42,25 bahkan kemampuan pengawas lebih rendah (Kompas, 24 April 2012). Selain itu baru 70% guru yang memenuhi syarat sertifikasi tetapi sertifikasi guru belum mampu meningkatkan mutu pembelajaran dan hasil belajar siswa. Survei yang dilakukan oleh Putera Sampoerna Foundation, menyatakan bahwa sebanyak 54% guru di Indonesia masih berkualitas rendah.’’
Besarnya anggaran pendidikan tidak berbanding lurus dengan perluasan akses pendidikan berkualitas. Sejak tahun 2009, akhirnya Pemerintah memenuhi amanat konstitusi 20% anggaran pendidikan, pasca putusan MK yang memasukan komponen gaji. Pada APBNP 2009 anggaran pendidikan dialokasikan sebesar Rp. 208,2 trilyun, kemudian dalam kurun waktu 4 tahun, anggaran pendidikan direncanakan meningkat 59% atau Rp 123 trilyun pada RAPBN 2013 menjadi Rp 331,8trilyun. Ironisnya, besarnya peningkatan anggaran pendidikan ini tidak mampu menyelesaikan persoalan pendidikan yang masih carut marut.
Data yang mendukung pernyataan tersebut antara lain:
  1. Berdasarkan data Kemendiknas yang dimuat dalam web resminya menunjukkan bahwa secara nasional saat ini kita memiliki 899.016 ruang kelas SD dan sebanyak 293.098 (32,6%) dalam kondisi rusak.
  2. Jumlah guru yang cukup besar yaitu sebanyak 3,4 juta (UNESCO, 2011) dan baru 16,9 % yang tersertifikasi.
  3. Angka putus sekolah di Indonesia tergolong cukup tinggi, karena berdasarkan data BPS tahun 2013, rata-rata nasional angka putus sekolah usia 7–12 tahun mencapai 0,67 persen atau 182.773 anak; usia 13–15 tahun sebanyak 2,21 persen, atau 209.976 anak; dan usia 16–18 tahun semakin tinggi hingga 3,14 persen atau 223.676 anak.
Dengan ketiga kondisi di atas maka seorang guru dituntut untuk lebih mandiri dan kreatif, karena seseorang yang memiliki kemandirian dan kreatifitas tinggi relatif mampu menghadapi segala permasalahan sehingga selalu berusaha menghadapi dan memecahkan masalah yang ada. Karena tanpa kemandirian dan kreatifitas maka seorang guru akan selalu kesulitan dalam melakukan pembelajaran yang ideal. Dan ingatlah sepenggal kalimat Presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno tentang guru yang dikutip dari buku karangannya, Dibawah Bendera Revolusi., “Dimasa kebangunan, maka sebenarnya tiap-tiap orang harus menjadi pemimpin dan menjadi guru. Pemimpin! Guru! Alangkah hebatnya pekerjaan  menjadi  pemimpin di dalam sekolah, menjadi guru di dalam arti yang spesial, yakni menjadi pembentuk akal dan jiwa anak-anak!”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar