- syntax, yaitu langkah-langkah operasional pembelajaran,
- social system, adalah suasana dan norma yang berlaku dalam pembelajaran,
- principles of reaction, menggambarkan bagaimana seharusnya guru memandang, memperlakukan, dan merespon siswa,
- support system, segala sarana, bahan, alat, atau lingkungan belajar yang mendukung pembelajaran,
- instructional dan nurturant effects—hasil belajar yang diperoleh langsung berdasarkan tujuan yang disasar (instructional effects) dan hasil belajar di luar yang disasar (nurturant effects).
Untuk lebih jelasnya
posisi hirarkis dari model dapat dilihat pada gambar 2.1. berikut ini:
Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan
bentuk pembelajaran yang tergambar dari
awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model
pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan,
metode, dan teknik pembelajaran.
Model pembelajaran Learning Cycle pertama kali dikembangkan oleh J. Myron Atkin, Robert
Karplus dan kelompok Science Curriculum Improvement Study
(SCIS) di Universitas California, Berkeley, Amerika Serikat sejak tahun 1967 (Zollman
dalam Asmuni, 2015), Model pembelajaran Learning Cycle merupakan salah satu
model pembelajaran yang sesuai dengan paradigma konstruktivisme yang menekankan
pentingnya siswa membangun sendiri pengetahuan mereka lewat keterlibatan dalam
proses belajar mengajar. Teori konstruktivisme
memandang bahwa belajar merupakan suatu proses membangun pengetahuan sedikit
demi sedikit, yang kemudian hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas
dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta, konsep,
atau kaidah yang siap untuk diambil atau diingat. Manusia harus mengonstruksi
pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata (Baharuddin dalam
Asmuni, 2015).
Menurut Soebagio, dkk (Asmuni, 2015) Learning Cycle merupakan
suatu model pembelajaran yang memungkinkan siswa menemukan konsep sendiri
atau memantapkan konsep yang dipelajari, mencegah terjadinya
kesalahan konsep, dan memberikan peluang kepada siswa untuk menerapkan
konsep-konsep yang telah dipelajari pada situasi baru. Implementasi model
pembelajaran Learning Cycle dalam pembelajaran sesuai dengan
pandangan kontruktivisme dimana pengetahuan dibangun pada diri peserta didik.
Thomas E. Lauer (Asmuni, 2015) menuturkan Learning Cycle pada
mulanya terdiri dari tiga fase yaitu exploration, introduction dan application-concept.
Tiga fase tersebut saat ini berkembang menjadi lima fase oleh oleh Anthony W.
Lorsbach pada tahun 2002 yang dikenal dengan nama 5E (engagement,
exploration, explanation, elaboration/extention, dan evaluation).
Pada gambar di bawah adalah tahap-tahap dalam model Learning Cycle 5E.
Fase 5E dalam model learning cycle dijelaskan
sebagai berikut:
- Fase Engagement (Pembangkitan Minat dan Pengetahuan Awal). Pada fase ini guru dapat menggali pengetahuan awal siswa dengan menfokuskan perhatian dan minat siswa terhadap topik yang dibahas, memunculkan pertanyaan dan memperoleh respons dari siswa. Fase ini juga berguna untuk mengidentifikasi miskonsepsi atau salah konsep dalam pemahaman siswa. Pada saat menggali pengetahuan awal, untuk identifikasi masalah yang bertententangan, guru dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan penting atau melakukan demontrasi. Berdasarkan pertanyaan atau demonstrasi siswa diharapkan memiliki jawaban yang berbeda dengan siswa lain sehingga menimbulkan konflik kognitif pada siswa. Dari respons siswa, guru dapat mengetahui pemahaman awal siswa tentang konsep yang dibahas sebelum pembelajaran. Fokus utama pada fase ini guru berperan sebagai pembangkit ingatan (memori) siswa berkenaan dengan pengetahuan sebelumnya, seperti fakta, difinisi, objek, peristiwa, atau pertanyaan-pertanyaan apa yang akan digunakan oleh guru sebagai pemicu rasa keingintahuan (curiocity) siswa yang akan dilibatkan di dalam konsep pembelajaran yang akan dibahas.
- Fase Exploration (Eksplorasi). Pada fase ini siswa bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil untuk mengerjakan Lembar Kerja Siswa (LKS) tanpa pengajaran langsung dari guru. Pada fase ini siswa belajar melalui aksi dan reaksi mereka sendiri dalam situasi baru. Siswa mengeksplorasi materi dan gagasan baru dengan bimbingan minimal dari guru. Pengalaman baru memunculkan pertanyaan dan masalah yang tidak dapat dipecahkan dengan gagasan-gagasan siswa yang sudah ada. Fase eksplorasi juga dapat membawa siswa pada identifikasi suatu pola keteraturan dalam fenomena yang diteliti. Selama fase eksplorasi, siswa diberi kesempatan untuk bekerjasama dengan siswa lainnya tanpa instruksi dari guru melalui kegiatan diskusi. Fase eksplorasi memberikan kesempatan pada siswa untuk memberikan gagasan-gagasan yang bertentangan, yang dapat menimbulkan perdebatan dan analisis dari alasan munculnya gagasan mereka. Analisis tersebut dapat mengarahkan cara diskusi untuk menguji gagasan lainnya melalui prediksi. Pada fase ini guru berperan sebagai fasilitator.
- Fase Explanation (Penjelasan). Kegiatan pada fase explanation diawali dengan pengenalan konsep baru yang digunakan pada kegiatan yang diperoleh dari fase eksplorasi. Konsep baru pada fase ini dapat dijelaskan dan diperkenalkan oleh guru, melalui internet, buku bacaan, film atau media lainnya. Selama fase eksplanasi guru memotivasi siswa untuk menjelaskan konsep yang dibahas dengan kata-kata sendiri, mengajukan fakta dan klarifikasi terhadap penjelasannya, dan mendengarkan secara kritis penjelasan siswa. Fase eksplanasi selalu mengikuti fase eksplorasi dan berkaitan langsung dengan pola yang ditemukan selama kegiatan eksplorasi.Fase ini juga merupakan fase diskusi klasikal, siswa didalam kelompoknya menjelaskan konsep hasil temuannya, menunjukkan bukti dan klarifikasi penjelasan terhadap hasil temuan kelompok lainnya, serta membandingkan argumen yang mereka miliki dengan argumen dari siswa lain. Penjelasan apa yang diperlukan guru dari siswa untuk mengembangkan ide-ide mereka dalam mencapai kesimpulan atau generalisasi, dan mengkomunikasikan apa yang mereka ketahui terhadap siswa lain tentang tema pembelajaran.Pada fase ini guru mendorong siswa untuk menjelaskan konsep dengan kalimat mereka sendiri, meminta bukti dan klarifikasi dari penjelasan mereka, dan mengarahkan kegiatan diskusi (brainstorm). Pada fase ini siswa menemukan pengertian dari konsep yang telah dipelajari, dan saling mendengar secara kritis penjelasan antar siswaatau guru.Siswa mempresentasikan hasil diskusinya. Jika dalam mempresentasikan belum benar tentang konsep yang dijelaskan, kemudian guru memberi definisi dan penjelasan tentang konsep yang dibahas.
- Fase Elaboration (Elaborasi). Setelah siswa dengan fase-fase diatas, berikutnya siswa dituntut untuk mengaplikasikan konsep/keterampilan ″sesuai dengan tema″ dan menemukan persalahan dalam situasi baru, serta bagaimana yang siswa lakukan untuk menerapkan pemahaman dan keterampilan konseptual, prosedural dan metakognitif guna memecahkan permasalahan, membuat keputusan, melakukan tugas, atau memahami pengetahuan baru. Pada fase ini siswa mengaplikasikan konsep (melakukan ekperimen) yang mereka dapatkan untuk menyelesaikan/memecahkan masalah.Fase elaborasi disebut juga aplikasi konsep. Pada fase ini siswa menerapkan konsep atau keterampilan pada situasi baru. Fase ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk menggunakan konsep-konsep yang telah diperkenalkan untuk menyelidiki konsep-konsep lebih lanjut. Penerapan konsep diarahkan pada kehidupan sehari-hari.
- Fase Evaluation (Evaluasi). Fase evaluasi dapat dilakukan pada seluruh pengalaman belajar siswa. Aspek yang dievaluasi pada fase ini adalah pengetahuan atau keterampilan, aplikasi konsep, dan perubahan proses berpikir siswa. Fase evaluasi memberikan kesempatan kepada siswa untuk menilai cara belajarnya, mengevaluasi kemajuan belajar dan proses pembelajaran. Evaluasi dapat dilakukan secara tertulis pada akhir pembelajaran atau secara lisan berupa pertanyaan selama pembelajaran berlangsung. Guru mengamati pengetahuan atau pemahaman siswadalam hal penerapan konsep baru, mendorong siswa melakukan evaluasi diri, mendorong siswamemahami kekurangan/kelebihannya dalam kegiatan pembelajaran yang sudah dilakukan. Pada fase evaluasi, siswa dapat juga melakukan refleksi berkenaan dengan belajarnya sendiri dengan mengajukan pertanyaan terbuka dan mencari jawaban dengan menggunakan observasi, bukti, dan penjelasan yang diperoleh sebelumnya. Kemudian mengambil kesimpulan atas situasi belajar yang dilakukannya, dan menganalisis kekurangan/kelebihannya dalam kegiatan pembelajaran.
Beberapa keuntungan diterapkannya
model Learning Cycle adalah:
- Pembelajaran bersifat student centered.
- Informasi baru dikaitkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa.
- Orientasi pembelajaran adalah investigasi dan penemuan yang merupakan pemecahan masalah.
- Proses pembelajaran menjadi lebih bermakna karena mengutamakan pengalaman nyata.
- Menghindarkan siswa dari cara belajar tradisional yang cenderung menghafal sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna.
- Membentuk siswa yang aktif, kritis, dan kreatif.
Sedangkan kekurangan penerapan model
learning cycle ini adalah sebagai
berikut:
- Efektifitas pembelajaran rendah jika guru kurang menguasai materi dan langkah– langkah pembelajaran.
- Menuntut kesungguhan dan kreatifitas guru dalam merancang dan melaksanakan proses pembelajaran.
- Memerlukan pengelolahan kelas yang lebih terencana dan terorganisasi.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar